Loading...

Inilah Imbas Tingkat Kematangan Ketika Panen Dan Suhu Penyimpanan Pada Pengelolaan Pasca Panen

Latar Belakang
Masalah penanganan produk hortikultura sesudah dipanen (pasca panen) hingga dikala ini masih menjadi dilema yang perlu menerima perhatian yang serius baik dikalangan petani, pedagang, maupun dikalangan konsumen sekalipun. Walaupun hasil yang diperoleh petani mencapai hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan sesudah dipanen tidak menerima perhatian maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan mutu atau kualitasnya. Seperti diketahui bahwa umur simpan produk hortikultura relatif tidak tahan lama.
Buah tomat gampang didapatkan di Indonesia. Tomat sanggup dimanfaatkan sebagai bumbu masak sehari-hari, materi baku industri saus tomat, buah segar, buah kalengan, bahkan sanggup sebagi materi kosmetik dan obat-obatan. Tomat sangat bermanfaat bagi badan lantaran mengandung vitamin dan mineral yang diharapkan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Kandungan karotin yang berperan sebagai provitamin A pada buah tomat sangat tinggi terlihat dari warna jingganya. Vitamin C dalam tomat bermanfaat sebagai antioksidan dan antisclerosis. Dengan banyaknya kandungan gizi tadi, tomat mempunyai kegunaan untuk mengobati beberapa penyakit menyerupai sariawan, Xerophtalmia (penyakit kekurangan vitamin A), watu ginjal, asma, lever, encok, bisul, jantung dan wasir.
Untuk menjaga kualitas tomat, selain pembudidayaan yang baik diharapkan perlakuan pascapanen yang baik pula. Kualitas tomat terus berubah sesudah pemanenan. Selama periode penyimpanan, sanggup terjadi overripe (lewat matang) secara cepat tergantung dari temperatur dan kematangan dikala panen. Buah yang lewat matang mengalami penurunan kualitas dan pengurangan umur simpannya lantaran buah terlalu lunak.
Untuk mempertahankan mutu tomat dalam jangka waktu yang relatif lama, cara paling mudah, murah, dan kondusif bagi tomat-tomat dalam negeri yaitu menyimpannya dalam kotak kayu. Kotak tersebut higroskopis sehingga sanggup menyerap H2O dan di potongan bawahnya diberi kapur tohor atau Ca(OH)2 untuk mengikat CO2. Kemasan ini harus disimpan di tempat yang kering dan teduh sehingga penimbunan etilen sanggup ditekan. Bila buah tomat yang disimpan masih berwarna kehijau-hijauan, penyimpanan dengan cara ini sanggup menahan kesejukan buah tomat hingga 2 ahad   (Widianarko et al. 2000).
Selain pengemasan dengan kotak kayu dan kardus, kini banyak dipakai penyimpanan dengan memakai materi plastik. Sifat-sifat plastik yang dipakai juga berbeda-beda terutama sifat permeabilitasnya yang memungkinkan zat-zat sanggup keluar atau masuk ke dalam kemasan plastik ini. Menurut Batu dan Thomson (1998), plastik jenis polyethylene 50 mikron dan polypropylene 25 mikron yaitu yang terbaik dengan umur simpan tomat hijau hingga 30 hingga berwarna merah dan 60 hari hingga melunak pada penyimpanan suhu 13º C.
Buah-buah tomat impor yang kita dapati di beberapa supermarket biasanya dibungkus dengan plastik polyethylene. Cara ini cukup baik, lantaran cukup efektif menekan pembentukan CO2 dan H2O. Namun polyethylene ini akan bereaksi dengan etilen yang dihasilkan buah tomat, membentuk rantai panjang thylene yang gampang bereaksi dengan lapisan lilin kulit tomat. Sampai batas tertentu pembentukan etilen ini kurang baik bagi kesehatan namun sanggup dihambat dengan mengupas kulit buah.
Penyimpanan dengan modified atmosphere (MA) menyerupai mirip controlled atmosphere (CA) yaitu dengan mengontrol konsentrasi oksigen dan karbondioksida. MA ini memakai lembar polimer semipermiabel yang telah disebut di atas sebagai MAP (Modified Atmosphere Packaging) menyerupai polyethylene. Tidak menyerupai CA yang kadar gasnya diatur pada batas tertentu, kadar gas pada MA telah ditentukan ketika pengemasan dan tidak ada pengaturan kadar udara dikala penyimpanan. Konsentrasi O2 akan menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi CO2 di sekitar buah di dalam plastik. Hal ini disebabkan oleh proses respirasi dari buah tomat. MA tidak lebih baik dari CA untuk penyimpanan dengan jangka waktu yang lebih usang tetapi untuk penyimpanan di toko dan penjualan ke tangan konsumen, MA sudah sangat efektif.

Tinjauan Pustaka
Tomat sebagai salah satu komoditas pertanian sangat bermanfaat bagi tubuh, lantaran mengandung vitamin dan mineral yang diharapkan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung zat pembangun jaringan badan insan dan zat yang sanggup meningkatkan energi untuk mencegah dan mengobati aneka macam macam penyakit, menyerupai sariawan karana kekurangan vitamin C, xeropthalmia pada mata lantaran kekurangan vitamin A, beri-beri, radang saraf, lemah otot, dermatitis, bibir merah dan radang pengecap lantaran kekurangan vitamin B (Cahyono 2008).
Waktu panen juga penting untuk diperhatikan. Sebaiknya panen dilakukan pagi hari atau sore hari untuk mengurangi respirasi buah tomat. Juga letakkan buah tomat yang dipanen di bawah bayang-bayang pohon jangan hingga terkena sinar matahari secara langsung. Jika mulai dari panen hingga penyimpanan bagus, buah tomat sanggup bertahan selama 7-8 hari di rantai pemasaran. Jika penanganan panen dan pascapanen tidak bagus, dalam waktu beberapa hari saja buah tomat akan kehilangan vigornya, terlihat mengkerut atau lembap membusuk. Hindari menutup buah tomat memakai plastik dikala dikumpulkan di wadah, lantaran respirasi tomat cukup tinggi sanggup menjadikan cepat tumbuh jamur dan membusuk (Meta 2012).
Penyimpanan buah pada suhu rendah sanggup memperlambat kecepatan reaksi metabolisme sehingga akan memperpanjang umur simpannya. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa buah terong belanda yang dipanen pada stadia masak (kulit berwarna merah), pH juice, total asam dan total padatan terlarutnya tidak mengalami perubahan sesudah 15 hari disimpan pada suhu 0oC atau 35 hari penyimpanan pada suhu 7oC, tetapi dari hasil penelitian lain ditemukan bahwa buah terong belanda yang dipanen pada stadia matang (mature) yaitu pada dikala kulit berwarna ungu tua, maka buah masih sanggup melanjutkan proses pemasakan secara normal (Julianti 2011).
Cara dan suhu pengemasan sangat besar lengan berkuasa terhadap warna dan kekerasan buah tomat. Pemasakan buah tomat berkorelasi tinggi dengan warna pemasakannya. Perlu dicatat bahwa pengemasan ini tidak sanggup memperbaiki mutu. Tujuan pengemasan yaitu sebagai berikut : Menghambat penurunan bobot berat akhir transpirasi, Meningkatkan gambaran produk, Menghindari atau mengurangi kerusakan pada waktu pengangkutan, Sebagai alat promosi. Penyimpanan dengan memakai materi plastik. Penyimpanan dengan polyethylene lantaran cukup efektif menekan pembentukan CO2 dan H2O (Karana 2009).
Sayuran biasanya dipanen ketika tumbuhan segar dan kelembaban tinggi dan lantaran itu dibedakan dari tumbuhan lapangan, yang dipanen pada tahap matang untuk biji-bijian, kacang-kacangan, biji minyak, atau serat. Ini kadar air yang tinggi sayuran menciptakan penanganan, transportasi dan pemasaran dilema khusus terutama di kawasan tropis. Di negara-negara berkembang menyerupai Nigeria, penyimpanan, pengemasan, transportasi dan penanganan teknik yang simpel tidak ada dengan tumbuhan yang gampang rusak dan sebagainya, ini memungkinkan kerugian yang cukup besar dari produk (Babalola et al. 2010).
Setelah penyimpanan susut berat cabe mengalami perubahan. Suhu dan usang penyimpanan besar lengan berkuasa faktual terhadap susut berat pada cabe rawit putih. Semakin tinggi suhu dan semakin usang penyimpanan maka susut berat semakin meningkat. Setelah penyimpanan, susut berat tertinggi yaitu terdapat pada penyimpanan suhu 29 °C (suhu kamar) selama 15 hari yaitu 60,5% dan susut berat terendah yaitu 0% (kontrol) (Rahmawati et al. 2009).

Daftar Pustaka


Keyword: Laporan Praktikum Pengelolaan Pasca Panen, Pasca Panen, Pengaruh Tingkat Kematangan, Suhu Penyimpanan, Pengelolaan Pasca Panen
Referensi 4101391733635678544

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Arsip Blog

close
Banner iklan   disini